Tugas dosen Bahasa Indonesia Keilmuan, buat esay tema wawasan kebahasa Indonesiaan.
oke, tugas udah seminggu berlalu, tapi ngerjakannya baru malam sebelum deadline. Akhirnya, entahlah jadinya kayak gini.
Ironisnya nasib Bahasa Indonesia kita
Bahasa Indonesia akan hilang secara perlahan, dan akhirnya lenyap jika kita tidak melestariaknnya, kalau bukan kita siapa lagi.
Kurangnya kecintaan remaja terhadap bahasa Indonesia mengakibatkan banyaknya penyimpangan terhadap bahasa Indonesia baku. Hal ini di karenakan tidak adanya minat untuk menerapkan bahasa nasional Negara kita, bukan karena tidak baik, namun Bahasa Indonesia dianggap tidak menarik untuk dipelajari lebih dalam, anak muda hanya sekedar tahu apa dan bagaimana bahasa Indonesia itu.
Penerapan bahasa Indonesia sebenarnya cukup sederhana, tidak sulit, namun mengapa anak muda lebih tertarik untuk mempelajari bahasa asing? Inilah permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat kita. Kurangnya rasa nasionalisme kepada bangsa menjadi salah satu penyebab utama penyimpangan ini.
Jika dikaji lebih dalam, bahasa Indonesia jauh lebih baik dibandingkan dengan bahasa nodern yang saat ini berkembang dikalangan remaja. Banyak remaja yang menggunakan bahasa alay, hanya karena ingin diterima oleh komunitasnya, supaya dianggap keren dan bergaya. Terlalu sering kita mendengar dan melihat bahasa alay diucapkan, bahkan dituliskan pada kertas jawaban ujian, mengapa demikian ? Karena mereka sudah terbiasa dengan bahasa gaul alay ini, bisa saja mereka lupa dengan bahasa asli bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Para penulis muda pun lebih banyak menggunakan bahasa gaul alay dengan alas an lebih ringan dan santai, hal ini tidak dapat disalahkan karena dengan adanya modernisasi wawasn kita semakin luas, namun alangkah lebih baik jika tidak menyimpang dari bahasa Indonesia sesuai ejaan yang disempurnakan.
Ironis memang, namun inilah kita saat ini, menggunakan globalisasi tanpa menyaring dampak darinya. Maka dari itu, wawasan tentang kebahasa Indonesiaan sangat penting digalakkan lebih gencar, misalnya dengan penambahan jam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah umum, penggunaan bahasa Indonesia seharusnya diwalai sejak dini, diajarkan sejak anak menempuh pendidikan, sehingga mereka akan terbiasa menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Kita sebagai penerus bangsa seharusnya bangga memiliki bahasa yang dapat menyatukan seluruh komponen dalam diri bangsa Indonesia, bahasa Indonesia menjadi warisan utama dan kekayaan yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Maka dari itu, selamtkan bahasa Indonesia dari keruntuhannya.
Nah, absurd abis !
Ternyata pas di kelas jam ke 3- 4, dosen memanggil 3 anak untuk berdiskusi tentang esaynya. Saat itu tanggal 25 jadi bu Muyas (dosen) manggil absen 25 tepat itu absennya pak RT Malthufullah Mu’asyir. Lalu 2012 jadi bu Muyas pake perhitungan yang boleh dibilang absurd 2+1+2 = 5 , jadi dipanggil absen 5 Chusnul Chotimah. Nah, tepat Chusnul ini duduk di sebelahku, aku bilang “chemungudh eaah Ncus” sambil ketawa- ketawa.
Bu Muyas masih sibuk sama absen, “Silviana” dan aku masih sibuk dengan ketawaku, “Silviana”.
*kemudian hening*
kelas membahana, dan ganti aku yang diam.
#pesan buat semua : memberi semangat kawan tidak selamanya baik.


















