Euforia 17an Dulu dan Kini

17 Aug 2013

17 Agustus tak pernah lepas dari kenangan- kenangan akan semaraknya lomba. Saat masa sekolah, setelah ikut upacara agustusan, saya dan beberapa teman menuju ke lapangan untuk menyaksikan lomba- lomba yang diadakan oleh petinggi desa. Menceritakan ini membuat saya jadi ingat masa kecil. Tahun- tahun saat saya masih SD, kampung saya tidak pernah absen mengadakan lomba agustusan. Selalu ada setiap tahun. Hal ini yang paling saya tunggu. Semua anak berkumpul untuk mengikuti lomba, tapi banyak juga yang datang hanya untuk melihat.

Lomba yang diselenggarakan pun bermacam- macam, mulai dari Makan Kerupuk, Balap Karung, Sepeda lambat, sepeda hias, memasukkan paku dalam botol, sepak bola terong, sundul kendi, balap kelereng, suap pisang, dan yang lainnya. Pelaksanaanya pun tidak hanya satu hari tapi hingga dua hari. Ini sangat menyenangkan. Saat itu banyak orang berkumpul, banyak penjual mainan dan makanan. Seperti pasar, ramai.

Saat kecil dulu, hampir semua lomba saya ikuti. Obsesinya Cuma satu dapat buku banyak, iya hadiahnya buku tulis. Dulu saya sempat menang beberapa lomba dan tingkat juara bervariasi mulai dari satu dua dan tiga. Ah senang pokoknya.

Apalagi kalau di tempat saya, setelah lomba- lomba, selalu ada hiburannya. Malamnya, ada panggung besar untuk hiburan, setiap tahun hiburannya pun bervariasi, mulai dari wayang, ludruk, hingga dangdut. Nah, para pemenang lomba- lomba diumumkan pada malam itu, jadi kalau menang lumayan bisa tampil! Ha Ha , ya itung- itung ngeksis dikit. Apalagi kalau menang berkali- kali, capek badan naik turun panggung, tapi senengnya pun gak kalah.

Oh ya, saya sempat nangis loh waktu kalah lomba. Ha Ha Ha. Sampai akhirnya dimenangkan. Lho kok bisa ? Ha Ha Ha. Saya masih ingat waktu itu lomba makan kerupuk. Kerupuk dikaitkan dan digantung di tali rafia, kemudian beberapa anak berlomba untuk menghabiskan kerupuk tersebut dengan cepat. [ setiap kompetisi kita harus punya strategi untuk jadi pemenang ], nah waktu itu saya masih belum tau gimana caranya menang lomba makan kerupuk, pas gigit dapat saya lepas, gitu seterusnya, nah saya kalah sama yang lain, kemudian saya nangis kenceng dan lari pulang. Setelah itu, sama panitianya saya dijemput di rumah dan dibilang kalau lombanya diulangi, pas di rumah itu saya di bilangi sama bapak, kalau lagi lomba makan kerupuk, begitu dapat kerupuknya jangan dilepas, dikunyah sambil mulut kita tetep nempel di kerupuknya. Nah, pas diulang itu saya menang. Ha Ha Ha

Sumpah! Euforia agustusan sangat terasa.

Itu dulu.

Entah sejak kapan hilang kebiasaan tersebut, sejak saya masuk SMA, lomba agustusan di kampung sudah punah, hampir di setiap daerah di tempat saya jarang melakukan perlombaan, padahal kan asyik yah, kenapa ya kok udah gak ada, kadang saya pun kecewa. Meskipun sadar, sekarang saya udah mulai besar, kalaupun ada lomba- lomba agustusan paling ya cuma nonton, tapi saya udah kehilangan momen dimana sorak- sorak semangat melihat anak kecil berusaha dapat nomer satu di perlombaan tersebut. Senang.

Kemerdekaan Indonesia ke- 68 ! Jayalah Negeriku !

4e30bec5a230fa4e2e6028d535c2fd7c_silvi


TAGS #30HariNonStopNgeblog


-

Author

Follow Me