Wisata Gunung Kelud Kediri

18 Aug 2013

Gunung Kelud, merupakan salah satu wisata yang ada di kota Kediri Jawa Timur. Kelud terletak diperbatasan Kediri, Blitar serta Malang ini tingginya mencapai 5.679 kaki dan hingga sekarang masih aktif. Mungkin karena itulah Kelud sempat menjadi sengketa antara Kediri dan Blitar.

Saya sudah beberapa kali pergi ke obyek wisata ini, yang pertama bersama keluarga dan teman ibu saat saya masih SMP, yang kedua bersama teman SMA, dan yang kemarin itu ketiga kalinya bersama keluarga besar.

Saat ini perjalanan menuju Kelud sudah dapat ditempuh dengan mudah, seluruh jalan sudah diaspal. Jika ingin ke Kelud, dapat ditempuh melalui jalur Kota Kediri -Wates - Gunung Kelud atau Pare - Wates - Gunung Kelud. Kalau belum pernah ke Kelud, jangan takut, karena banyak sekali petunjuk jalan yang akan mengantarkan saudara sekalian untuk sampai di Gunung ini.

BERANGKAT

Adik sepupu saya yang tinggal di Batam sedang mudik, dan dia sangat ingin pergi ke Gunung Kelud. Setelah ngobrol sana sini, akhirnya kami sekeluarga berangkat hari Ahad, 11 Agustus 2013 pukul 10.00, dengan persiapan seadanya, biskuit- biskuit lebaran pun dijarah untuk camilan selama di perjalanan. Rencananya kami berangkat dengan dua kendaraan, satu dikendarai oleh keluarga Pare dan satunya lagi dikendarai oleh keluarga Surabaya. Keluarga Pare yang ikut adalah Om Sigit, Mas Andik, Mas Angga, Ibuk, Bude Pur, adek Donni, dan Adek Chika, sebenarnya masih ada adek Putri yang ingin ikut tapi sedang ada acara di Blitar. Ternyata keluarga Surabaya tidak jadi menyusul ke Kelud, waktu yang tidak mencukupi karena sorenya akan pulang ke Gresik. Jadilah hanya kami yang pergi ke Kelud.

SAMPAI di KAWASAN KELUD

Kami sampai di kelud sekitar pukul 11.30 keadaanya macet dan penuh. Mungkin karena masih dalam rangka hari besar. Untuk menunggu antrian, Om Sigit memutuskan untuk rehat sejenak sambil mendinginkan mobil yang mulai panas, ternyata sampai pukul 13.00 kendaraan masih belum bisa naik karena menurut info di atas (area kelud) masih ada kendaraan kurang lebih sekitar 500. Tidak mau sia- sia, Ibuk dan bude memutuskan untuk naik angkutan supaya bisa cepat naik ke atas.

[ Menurut pengamatan saya, infrastruktur di Kelud sudah semakin membaik dari tahun ke tahun, sebelumnya di area pembelian tiket belum ada apa- apanya, sekarang sudah ada musem Kelud, serta cafetaria. Selain itu saat ini juga sudah ada angkutan sejenis lyn terbuka. ]

Setelah itu, mas Andik dan Om Sigit menuju ke pusat informasi untuk menanyakan mekanismenya angkutan. Ternyata mudah, cukup dengan mendata anggota keluarga, lalu bayar, dan gak berapa lama setelah pembayaran, petugas keluar untuk memesan tiket, dan tiket pun sudah ada ditangan. Oh ya, untuk naik angkutan ini kita cukup membayar 27K/ orang dan sudah termasuk tiket masuk dan PP.

Oh ya, jika menggunakan kendaraan pribadi, tiket yang harus dibayarkan adalah Rp 10K/ orang dewasa dan Rp. 8K/ anak- anak, sedangkan WNA Rp. 20K. Tarif yang dikenakan untuk motor Rp. 2K dan Rp 5K/ mobil. Tiket dapat dibeli di pintu gerbang utama.

Sopir angkutan Kelud ramah, dan tentunya sudah ahli, tanjakan tikungan belokan dilalui dengan santai tapi serius. Oh iya, kalau ada yang belum pernah ke Kelud, saya sarankan untuk membawa jaket ya. Soalnya kemarin saya bawa jaket dan saya tinggal di kendaraan, pas naik angkutan dinginnya nohok. Brrr..

Setelah perjalanan panjang, kami sampai di area parkir Gunung kelud. Seperti yang diduga, ramai sumpah! Nih kayak gini kondisinya :


Saya adalah tipe orang yang gampang beser (sering kebelet pipis), jadi begitu melewati rute yang tidak biasa dan angin yang kencang otomatis sistem saya menyuruh untuk segera ke kamar mandi. Untuk yang kondisinya sama dengan saya, gak perlu takut, di area parkir ini terdapat fasilitas pendukung, antara lain kamar mandi (bersih), musholla, serta warung makan.

Setelah selesai dengan urusan alam, kami melanjutkan perjalanan untuk masuk terowongan. Terowongan ini panjangnya sekitar 200meter, dan ini adalah jalan satu- satunya menuju kubah lava dan gardu pandang.


Setelah sampai di ujung terowongan, kita akan melihat papan petunjuk seperti ini :


Nah, kami memutuskan untuk jalan terlebih dahulu melihat munculnya anak G. Kelud.

Setelah itu kami naik ke gardu pandang, jumlah tangganya kurang lebih 500, jika PP berarti tinggal di kali dua, karena ga sanggup akhirnya saya dan adek Chika berhenti di tangga untuk melihat pemandangan alam, sedangkan mas Andik, mas Angga, adek Donni dan Om Sigit berhasil menakhlukkan 1000 tangga tersebut. Nih fotonya :

Model : Mas Andik

Saat Om Sigit, Mas Andik, Mas Angga dan Adek Donni naik ke Gardu Pandang, saya, adek Chika, Ibuk dan Bude leha- leha di bawah.

Karena hari sudah sore, dan semua sudah turun dari gardu pandang kami kembali menyusuri terowongan sepanjang 200 meter ini, saat itu sebenarnya adek chika ingin turun ke sungai pertemuan air panas dan dingin, tapi karena takut kesorean (soalnya di Kelud di tutup pukul 17.30) akhirnya kami memutuskan untuk menunggu angkutan untuk balik ke pos 1. Setelah sekian lama menunggu akhirnya kami dapat juga angkutannya.

Saat sampai di mysterious road pun, pak Sopir memberhentikan kendaraanya, tak berapa lama mobil jalan sendiri. Katanya saat itu jalanannya naik, padahal saya ngerasa kalau lagi turun. Entah saya yang salah atau gimana nggak tau, yang jelas saya masih pengen balik ke jalan itu untuk membuktikan sendiri.

Untuk kesemuanya, perjalanan kali ini sangat menyenangkan, tapi sisi positif selalu berkaitan dengan sisi negatif. Meskipun saat ini G. Kelud infrastrukturnya sudah sangat baik dibanding yang dulu- dulu, tentunya masih ada kekurangannya. Apa saja itu ?

Untuk Lyn/ Angkutan :

Armada Lyn sebaiknya ditambah sehingga pengunjung tidak saling menunggu jika ingin menggunakan alat transportasi ini, soalnya kemarin saya melihat hanya ada dua lyn ini. Selain itu di pos pemberangkatan dan pos kepulangan sebaiknya ada angkutan yang menunggu, jadi wisatawan tidak perlu antre lama jika ingin pulang.

Untuk Kebersihan :

Oke, mungkin bisa dibilang di kelud sangat jarang ditemukan yang namanya TEMPAT SAMPAH. Jika adapun hanya beberapa. Jadi, menurut saya, tempat sampah di tambah jumlahnya dan ditempatkan di spot- spot yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Seperti contohnya di sepanjang tangga menuju gardu pandang dan sungai air panas dingin, juga di tempat istirahat. Kemarin saya kesana sampah dimana- mana. Selain itu, perlunya banyak rambu2 tentang buang sampah.

Kayaknya untuk saat ini masih itu aja dari saya yah. Semoga wisata di Kediri dan tempat lainnya masih akan terus bisa dinikmati sampai kapanpun.

Jangan lupa main ke kediri dan Gunung kelud ya!


TAGS #30HariNonStopNgeblog Kediri Wisata Gunung Kelud


-

Author

Follow Me