Mata Senang, Perut Kenyang

21 Aug 2013

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan Mei saya mengikuti event besar di Solo, yaitu Asean Blogger Festival Indonesia. Sebagian sudah saya ceritakan disini 1 2 3 4 |. Nah, kali ini saya mau menceritakan tentang tarian- tarian dan juga makanan yang saya rasakan saat berada di Solo.

Tarian |

H1

Gala Dinner

Gala Dinner

Saat Gala dinner di Loji Gandrung, kami di suguhi oleh tarian yang bernama Tari Gambyong Retno Kusumo. Empat penari putri memakai kostum kebaya, dipadu dengan kemben berwarna merah, memakai selendang hijau dan hiasan di kepala. Dari googling saya mendapatkan filosofinya, yaitu : penari sedang menyambut tamu agung.

H2

Mangkunegaran

Mangkunegaran

Tarian kedua dalam event Mangkunegaran Perfoming Art. Nama pagelarannya adalah Pentas Kolosal Timun Mas,. Ceritanya hampir sama seperti Timun Mas yang sering kita baca. Tapi, yang membuat saya terkesan adalah pemain pentas ini banyak anak dibawah umur, dan mereka benar- benar bertalenta loh, menyanyi, menari, drama. Wah!

H3

Hari ketiga tidak ada penampilan tarian, karena saat itu kami mengunjungi Sangiran dan Candi.

H4

1

Tari Gatutkaca Dadung Awuk

Hari terakhir ABFI, penutupan acara dilakukan di dalam kasunan, disini kami diberi suguhan beberapa tarian khas Jawa, yang pertama, nama dari tarian tersebut adalah Tari Srimpi Moncar tari ini dibawakan oleh empat penari putri, yang menggunakan kostum perpaduan merah dengan kuning, tarian ini menceritakan tentang kisah peperangan antara Adanenggar dan Kelaswara yang memperebutkan Wong Agung Menak. Kemudian tari kedua ini dibawakan oleh dua remaja putra, tarian ini diberi nama Tari Gatutkaca Dadung Awuk, tarian ini menceritakan tentang peperangan antara Gatotkaca melawan raksasa penunggu hutan Dadung Awuk.

Makan |

Selama berada di Solo, saya mencoba beberapa jenis makanan yang tentunya tak saya temukan di Kediri Jatim. Saya terkesan dengan rasa juga tampilannya.

Selat Solo

Selat

Selat

Awal mula saya mencicipi Selat Solo saat berada di kasunan, awalnya saya mengira kalau ini adalah gado- gado, tapi yang membedakan Selat Solo dengan gado- gado adalah bumbu/ kuah yang biasa di siram sebagai toping. Jika gado- gado menggunakan bumbu kacang Selat Solo menggunakan kuah berwarna coklat seperti bumbu rujak cair. Tentu saja rasanya enak.

Soto Gobyos

Belum sempat mengabadikan momen Soto Gobyos.

Saat itu setelah naik bus tingkat Jaladara saya dan beberapa kawan blogger lainnya, Babeh Helmi, Cak Wigi, Ria Lyzara, Pradina, Aris Rahmawan, Agung Firdausi Ahsan, Mbak Yuniarnukti, mas Lukman dan yang lainnya jalan- jalan ke Mangkunegaran dan melewati pasar malam (lupa jalannya), pokoknya di depan Mangkunegaran. Ceritanya kelaparan. Maka dari itu langsung mampir ke Soto Gobyos.

Gak habis pikir sama namanya, Soto Gobyos, wah pasti pedes iki ternyata enggak. Sotonya ditaruh di mangkok kecil, harganya 2k perporsi. Enak sih, tapi kurang banyak. Haha. Tapi gak perlu khawatir, disana nanti kita bisa nambah lauk seperti telur bumbu kecap/ ati ampela/ sate tahu dan sebaginya. Saya habis 2 biji telur bumbu kecap dan segelas teh hangat. Segitu Cuma habis 7K aja. Murah meriah.

Masih ada lagi nama kulinernya, tapi saya lupa apa namanya.

Jadi pengen pergi ke Solo lagi :D

061a3939d9c9e9d67da0e51ff6b5744f_silvi



TAGS #30HariNonStopNgeblog Solo Kuliner Culture


-

Author

Follow Me